Menerawang Musim Semi Ekonomi dari Mellat Park

panorama-di-mellat-parkhimbauan-tahun-berhemat1Sore itu saya duduk di sudut Mellat Park , mengagumi bunga-bunga spring yang mulai merekah. Ah…benar kata orang, Mellat Park memang cantik dan elok, barangkali gambaran yang agak mirip adalah Cibodas. Bedanya, untuk bisa menikmati keindahan Cibodas kita harus menyisir jauh ke luar kota, tapi Mellat Park berada di pusat kota, berdampingan dengan gedung-gedung megah. Di sepanjang sisi taman, berbaris pohon-pohon rindang yang mengesankan keteduhan dan kedamaian, di bawahnya puluhan bangku-bangku taman tertata nan rapi.

 

Kekaguman saya semakin menjadi, saat berada tepat di gerbang masuk, berbagai ragam pepohonan berjajar rapi dihias aneka bunga yang baru saja bersemi. Bunga yasmin, suzan, surkh, niluvar dan syaqayik seperti berlomba menawarkan pesonanya. Ah…sepertinya Tuhan sedang meniupkan setetes keindahan diriNya dalam kelopak-kelopak bunga yang jelita. Apalagi hari itu, langit tampak biru menampah pesona keindahan latar.

 

Perhatian saya kini tertuju pada spanduk besar yang bertulisakan “Sal-e Islah-e Ulgu-e Masraf” yang kira-kira artinya “Tahun reformasi pola konsumsi” Tiba-tiba saja, ingatan saya melayang pada beberapa hari ke belakang, saat pemimpin revolusi Iran mencanangkan tahun ini sebagai tahun berhemat. Pencanangan visi ini dilakukan beberapa saat setelah pergantian tahun dalam pidato tahunan. Visi inilah, biasanya akan menjadi ruh dan semangat masyarakat dalam menjalani hari-hari ke depan. Visi yang diangkat, biasanya berangkat dari pencermatan dalam akan fenomena kekinian yang melanda dunia dan juga konteks nasional.

 

Visi tahun inipun, serasa pas dengan kondisi dunia yang tengah dilanda tsunami ekonomi. Terjungkalnya berbagai perusahaan ternama diikuti membengkaknya angka pengagguran juga merangkaknya harga sandang dan papan membuat masyarakat dunia dihantui kembali peristiwa depresi ekonomi, pasca perang dunia kedua. Para ekonom kalap memutar keras urat syarafnya, sementara pemain di lapangan dan masyarakat bawah semakin panik.

 

Ada yang kerap luput dari bidikan massa saat krisis melanda. Kita memang butuh banyak cadangan devisa untuk mengimbangi jatuhnya nilai tukar mata uang atau kita memang perlu memberikan jaminan keamanan agar insvestor tak berlarian. Tapi, sesungguhnya ada terapi yang berbiaya murah namun bisa menyehatkan kehidupan ekonomi masyrakat, meskipun bisa jadi hasilnya baru akan terlihat dalam jangka panjang. Terapi itu, tak lain pola konsumsi masyarakat yang sehat. Persis sebagaimana yang diisyaratkan Rahbar.

 

Saya jadi teringat serial nabi Yusuf yang tengah diputar di tv 1 Iran, saat mengetahui akan terjadi masa paceklik panjang, nabi Yusuf menurunkan strategi untuk mengubah pola kunsumsi masyarakat dan menyimpan gandum-gandumnya di gudang penyimpanan untuk masa-masa sulit. Hasilnya, saat itu negeri Mesir paling siap menghadapi krisis ekonomi, bahkan bisa mensuply pangan ke beberapa negeri tetangganya, seperti Kan’an.

 

Saat inipun, ketika dunia sedang mengalami paceklik ekonomi. Jika Iran berhasil menjalankan berbagai program penghematan, tidak menutup kemungkinan beberapa puluh tahun ke depan, Iran akan mengalami kemampanan ekonomi yang cukup diperhitungkan di tingkat asia, seperti prediksi beberapa analis. Nampaknya, untuk mencapai target tersebut, tahun ini iran akan merombak besar-besaran pola kunsumsi baik dalam skala mikro maupun makro ekonomi.

 

Di hari pertama tahun inipun, sudah tersebar berita pengurangan subsidi bensin yang biasanya dialokasikan sebesar 120 liter perbulan menjadi 100 liter. Sebagai catatan harga subsidi bensin 100 tuman (sekitar 1000 rupiah), sedangkan bensin tanpa subsidi sebesar 500 tuman. Secara kasat mata, sepertinya masyarakat terkena tekanan ekonomi. Namun, senyatanya jika saja masyarakat memperbaiki kembali pola konsumsi mereka dan bersulit-sulit dahulu, tidak mustahil dalam jangka panjang akan menjadi tabungan keberhasilan. Agaknya, jika Indonesiapun ingin keluar dari jeratan krisis ekonomi, harus mulai mengkaji ulang reformasi konsumsi baik di tingkat mikro maupun makro.

Malam di Azadi Tower

mp-1

Hari-hari ini, Iran memasuki minggu terakhir musim dingin. Biasanya, angin yang mengigit memang perlahan mulai berpamit. Tapi kali ini, suhu udarapun ikut merambat naik sampai dua digit. Tentulah, sebagai orang yang sudah bertahun-tahun lekat dengan alam tropis, suhu seperti ini sudah amat saya rindukan. Keluar rumah tanpa harus membekali diri dengan perlengkapan yang cukup merepotkan, juga diantara yang membuat saya lega. Dan terutama, bisa lebih leluasa merencanakan acara keluarga di luar rumah.

 

Seperti malam ini, kami sudah terdampar di Azadi Tower, poros kota Teheran. Dari titik ini, dengan mudah kita bisa menjangkau Teheran selatan yang padat atau menuju arah utara yang dihuni pemukiman asri. Biasanya, tempat ini hanya saya lalui untuk sekedar transit. Tapi malam ini, rasanya ingin berlama-lama berteduh di bawah kemegahannya.

 

Di temani sepoi angin dan langit yang bertaburan bintang, saya mulai menyusuri taman di sekitar menara, kecil namun cukup asri. Hati saya tergoda pada warna warni jubah yang dikenakannya, merah, ungu, hijau, putih biru dan sungguh semuanya terasa pas melekat padanya. Tampak begitu memesona namun tetap menyimpan wibawa.

 

Menara itu begitu membisu, seakan tak menghiraukan kebisingan makhluk-makhluk di sekitarnya yang tak pernah terhenti. Deru mesin bus way yang menderu-deru memboyong puluhan penumpang, suara klakson bergantian diperdengarkan atau suara hak sepatu pejalan kaki yang bergegas berlalu di depanmu. Sungguh pemandangan yang amat kontras.

 

Sekali lagi, kupandangi lekat Azadi Tower yang berdiri kekar di hadapanku. Hati saya berbisik, pastilah ada pesan di balik nama yang disandangnya, Azadi atau kebebasan. Apapun arti yang ingin dipedar dalam kata itu, tentunya menyimpan kebaikan. Kata “kebebasan” sendiri mengingatkan saya pada maha sosok yang menjelma ke dunia pada malam ini, 14 abad lalu. Ya…malam ini adalah hari kelahiran seorang ayah sekaligus maha guru seluruh umat. Ia pembebas manusia dari perangkap kejahilan.

 

Tiba-tiba saja, ingatan saya melayang pada desa-desa nun jauh di sana, di balik perbukitan. Keindahan menara kini terhalang oleh bayangan sebuah surau yang diapit parit-parit kecil dan kelokan pematang sawah. Sayup-sayup terdengar suara parau pak ustad bercerita tentang kehidupan sang Nabi. Anak-anak kecil yang mengelilinginya seakan tersihir oleh tokoh dalam cerita itu, semua hening dan sepi.

 

Sampailah cerita itu pada sebuah kalimat: “Anak-anakku, suatu hari Rasul pernah bersabda kalau beliau sedang merindukan saudaranya. Sahabat lalu bertanya: Apakah yang anda maksud adalah kami? Rasul menjawab: “Bukan, kalian adalah sahabatku yang baik, tapi saudaraku adalah umat yang datang setelahku. Pak ustadpun mengakhiri ceritanya: “Jadi, kita adalah saudara Nabi, umat yang sangat dirindukannya. Karena meski kita tidak berjumpa dengan beliau, tapi amat mencintainya”

 

Seorang bocah cilik berceloteh: “Pak ustad saya juga rindu sama Rasul. Kalau nanti bertemu, saya akan cium tangan dan menuruti nasehatnya”

 

***

“Bu..bu ada polisi…”

Lamunan saya segera buyar oleh teriakan girang Mehdi melihat satpam yang sedang berpatroli. Saya melambaikan tangan dan melempar senyum. Sementara, hati ini masih galau memikirkan apakah aku diperkenankan menyambut kerinduan Rasul itu? Atau Apa yang sudah kuperbuat agar Rasul juga rindu padaku? Salam bagimu wahai Rasul dan selamat atas kelahiranmu.

 

* Oleh2 jalan malam minggu kemarin

Ahmadinejad, Atasi Krisis dengan Berhemat

ahmadinejadHari ini saya memeriksa rekening pembayaran listrik untuk dua bulan terakhir (karena pembayaran listrik di sini setiap dua bulan sekali), saya hampir tak percaya melihat angka yang tertulis di rekening hanya sebesar 21. 928 rial (sekitar 21. ribu rupiahan). Berarti setiap bulan saya hanya mengeluarkan sekitar 10 ribu rupiah. Padahal, saya merasa pemakaian listrik dua bulan ini cukup besar, karena hampir tiap hari saya menggunakan microwave, belum lagi dua atau tiga kali sehari bervacuum cleaner ria. Awalnya saya merasa hepi, karena anggaran untuk shopping  bisa bertambah.

 

Tapi, hati saya kembali menciut waktu tahu angka pemakain sebenarnya sebesar 204.854 rial (sekitar Rp. 200 ribu). Di bawahnya tertulis subsidi negara: 182.917 rial. Dari dulu, saya memang tahu kalau listrik d Iran termasuk yang disubsidi, tapi jujur saja baru tahu kalau jumlah subsidinya ternyata sangat besar. Berarti selama ini, masyarakat Iran hanya membayar sekitar 10-20% dari harga real energi listrik. Saya langsung melongo, pantas saja pendapatan devisa minyak dan gas Iran yang berlimpah itu, banyak juga tersedot untuk sektor ini.

 

Tentu saja, kondisi ini akan sangat membebani negara, terutama di saat krisis ekonomi semacam ini. Alokasi dana yang jumlahnya cukup signifikan itu, bisa sangat berguna untuk memperbaiki berbagai infra struktur dan sarana umum seperti jalan, kesehatan, penelitian, pendidikan dan pembangunan sejumlah lapangan kerja. Pada sisi lain, kebutaan atau sikap masa bodoh pada harga real energi, akan mengakibatkan masyarakat lengah dari pola hidup berhemat.

 

Dan yang lebih mengerikan lagi, model subsidi semacam ini, ternyata tidak sejalan dengan tujuan pemerataan sosial. Karena, justru yang diuntungkan adalah orang-orang kaya yang menerima lima kali lipat subsidi dari pemerintah, seperti disebutkan Daud Ja’fari, mantan menteri ekonomi kabinet 9.

 

Sebeneranya, beberapa kekhawatiran ini jauh hari sebelumnya sudah ditangkap oleh Ahmadinejad. Sejak lama, ia mengusulkan “subsidi tepat guna” dengan cara menjual secara real energi listrik. Sebagai konpensasinya, dilakukan subsidi dalam bentuk nominal kepada masyarakat menengah ke bawah melalui rekening bank masing-masing, dengan asumsi semua masyarakat Iran memiliki rekening di bank. Saat krisis dahulu, Indonesia juga pernah melakukan hal yang sama, hanya saja kendalanya pada saat pembagian uang di lapangan.

 

Kembali pada soal gagasan “subsidi tepat guna” yang digulirkan Ahmadinejad. Awalnya banyak pihak yang tidak setuju dan beranggapan ide ini hanya akan menambah krisis. Tapi, akhirnya setelah melalui proses balak-balik rapat kabinet dan anggota dewan, ide ini mulai dibahas secara serius di majelis dan rencananya musim panas mendatang sudah bisa direalisasikan.

 

Reaksi kontra sebagian masyarakat juga bermunculan. Tapi bagi Ahmadinejad, yang seringkali menengok langsung daerah-daerah terpencil di Iran, ketimpangan masyarakat jauh lebih menyesakkannya dari pada hanya menuruti sebagian warga perkotaan yang merasa “kenyamanan” hidupnya terusik.

 

Selama kepemimpinan Ahmadinejad memang terasa ajakan untuk “hemat energi” digelar di mana-mana mulai dari spanduk, koran, radio apalagi tv. Awalnya saya pikir jangan-jangan produksi gas Iran mulai seret. Tapi, ternyata Ahmadinejad punya mimpi tersendiri untuk membagi penghasilan sumber daya alamnya itu pada kaum papa di sudut-sudut terpencil dan juga untuk anak cucu bangsanya kelak.

 

Yah…walaupun saya bukan warga negaranya Ahmadinejad, tapi izinkan saya untuk setuju dengan pendapatnya, karena kecondongan pada kaum tertindas adalah isu semua bangsa, bahkan umat manusia.

  

photo dar sini

Antara Saya, Ayah dan Annisa

aku-dan-ayah-11Menyimak kisah Annisa dalam “Perempuan Berkalung Sorban”, mengingatkan kembali kenangan saya bersama ayah saat beliau masih hidup. Bukan, bukan karena kemiripan cerita, lebih karena kesamaan latar belakang. Tapi, perjalanan hidup Annisa sama sekali berbeda dengan apa yang saya alami.

Ayah saya seperti juga bapak Annisa, seorang yang lahir dan tumbuh besar di lingkungan santri. Bahkan, sampai menjelang mangkat beliau masih menjunjung tinggi nilai-nilai “kesantrian” nya. Namun, ayah sama sekali jauh dari prototipe kiai yang dikonstruksi dalam cerita Annisa. Bapak Annisa digambarkan sebagai seorang yang otoriter dan tak ramah gender.

Sebaliknya, sejak kecil saya menyaksikan ayah yang lebih senang melayani dari pada dilayani. Tak jarang saya melihat beliau dengan senang hati mengerjakan tugas domestik. Hampir tak pernah saya dengar kalimat-kalimat perintah dengan nada tinggi mengalir dari bibirnya: “Ambilkan teh!” “Bawa kesini piring!” “Anduk di mana?!” “Kenapa baju belum disetrika?” Dalam benak ayah selalu terbayang kisah Nabi Muhammad yang menjahit sendiri sandalnya.

Seperti bapak Annisa ayah saya juga tinggal di daerah, tak pernah mengikuti kursus dan penyuluhan persamaan gender, membaca buku atau menonton film yang bertema serupa. Tapi, tak ada kegamangan sama sekali di wajahnya saat saya mengutarakan akan kos di luar kota, padahal saat itu saya baru saja melepas seragam putih biru. Bahkan, beliau juga menyetujui rencana saya untuk sekolah di luar selepas smu, meski rencana itu baru terlaksana selepas sarjana. Menurut ayah, kata “perempuan” bukanlah hambatan bagi seseorang untuk mencapai mimpi-mimpinya juga menetukan pilihan hidupnya.

Sebagai seorang yang berupaya untuk mendengar panggilan nurani dan menjalani keyakinan keberagamaannya, ayah saya berusaha untuk bersikap adil dengan tidak menyudutkan seseorang karena alasan gender. Bagi ayah, sikap baginda Nabi sudah cukup jelas menggambarkan bagiamana sebaiknya interaksi ayah dan putrinya. Nabi merasa bangga memiliki anak perempuan di tengah masyarakat yang justru mengharamkan kelahiran anak perempuan.

Dalam keseharian, Nabi membuktikan statemennya. Saat Ali datang melamar, Nabi mengajak diskusi putrinya. Atau juga saat sahabat bertanya kerap dirujukkan pada Fathimah. Bukan karena Rasul tak mampu menjawab, tapi kemampuan dan pendapat perempuanpun perlu disimak.

Saya tidak hendak tersenyum di atas luka Annisa. Tapi, justeru sekedar ingin berbagi pada Annisa untuk tidak lagi nanar menatap setiap dinding pesantren. Karena perlakuan tak adil pada perempuan bisa terjadi di dinding manapun, pada agama apapun, pada benua manapun dan pada warna kulit apapun.

Jika kisah Annisa ingin berpesan, di manapun bisa terjadi penyimpangan dalam memaknani kebenaran, barangkali ini senada dengan apa yang saya pahami. Namun, jika kisah ini menyimpulkan pesantren berpotensi melahirkan diskrikinasi gender, maafkan saya jika tak sependapat, karena indra saya selama puluhan tahun menyaksikan langsung hal yang sebaliknya. Mungkin juga banyak teman-teman lain yang memiliki kisah serupa. Selamat merenung kembali, sahabat!

Putra Mariam: Film Kerukunan yang Menentramkan

Jenis: Film drama

Judul: Putra Mariam

Skenario dan Sutradara: Hamid Jabali

rahman-menolong-romo-yang-sakit1Dalam sejarah perjalanan anak adam, kerukunan umat manusia kerap kali mengalami ujian pahit. Tak jarang kecintaan pada sesama terkalahkan oleh kepentingan-kepentingan individualis. Belakangan juga, kita berturut-turut menyaksikan perseturuan antar umat beragama di berbagai wilayah tanah air. Apalagi, suhu politik menjelang pemilu yang kian memanas, seringkali turut menghangatkan segala friksi dan perbedaan.

Saya tak bermaksud membedah konflik sosial tersebut, biarkan itu menjadi PR sosiolog agama dan para juru dakwah. Tapi, sebagai bagian dari umat, rasanya saya juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan pengertian pada orang-orang di sekitar saya, terutama anak-anak sebab kelak mereka akan menjadi bagian dari masyarakat. Dengan menonton film ini, saya jadi memperoleh gambaran tentang kehidupan beragama yang menyejukkan, terutama bagi pendidikan anak-anak.

Film yang berdurasi lebih dari 60 menit ini, berkisah tentang kehidupan Rahman, bocah kecil yang tinggal di pelosok desa di Iran. Setiap pagi, Rahman yang diperankan oleh Muhsin Falsafin, bekerja mengantar susu ke rumah-rumah penduduk termasuk ke gereja yang berada di kampung tersebut. Suatu hari, Romo sedang tidak di tempat, Rahman kecil mencarinya sampai ke ruangan kebaktian. Ia terkejut dan aneh memandangi simbol-simbol agama yang selama ini terasa asing baginya. Lalu dengan penuh rasa takut, ia pun berlari dan menjauh meninggalkan gereja.

Namun, kecemasan itu tak berlangsung lama. Berkat kebaikan Romo yang selalu mengantar bunga-bunga segar ke pekuburan, termasuk makam ibu Rahman yang bernama Mariam, ia pun perlahan mulai membuka diri. Apalagi, saat Romo ditanya tentang ibunya, ia menjawab: “Semua ibu itu baik seperti bunda Maria”

Pertemanan Rahman makin menguat, di saat sang Romo mulai jatuh sakit. Setiap hari Rahman datang ke ruangannya untuk membantu orang tua sebatang kara ini. Tekad menolongnya kian bulat ketika ustadnya memberikan mandat untuk lebih memperhatikan Romo, pada saat pak ustad menjenguknya.

Suatu hari, Romo meminta Rahman untuk menghubungi saudaranya yang menjadi pendeta di salah satu gereja kota. Di sinilah petualangan Rahman dimulai, ia menyusuri gereja demi gereja untuk berjumpa dengan saudara Romo. Pada setiap gereja, Rahman menemukan beragam upacara mulai dari pembaptisan hingga pernikahan. Ia seperti berusaha memaklumkan dirinya bahwa di luar sana ada keyakinan yang berbeda dengannya.

Saudara Romo akhirnya ditemukan lalu ia diboyong si adik untuk berobat ke rumah sakit kota. Sekali lagi, kesetiaan Rahman pada kemanusiaan perlu dipuji. Ia berjanji pada Romo untuk menjaga kediamannya. Di sela-sela jadual ngaji, mengumandangkan azan dan mengempel lantai masjid. Ia juga menyempatkan untuk menyeka debu di gereja, menyalakan lilin dan memperbaiki atribut yang rusak.

Rahman, dalam film yang diproduksi rumah sastra dan seni anak ini telah menyentil nurani saya yang terkadang belum adil menyikapi perbedaan. Rahman seorang bocah cilik yang sangat taat pada aturan agamanya, namun menjadi lara dan menitikkan air mata ketika mendengar kabar kematian Romo.

ustad-jenguk-romo1

Aku dan Kereta Revolusi yang Terus Berderak

Coretan ini kubuat seminggu lalu, baru sempat diposting.

lagi2-masa3Pagi ini 10 Februari 2009, matahari agak malu-malu bertamu, timbul tenggelam di balik gumpalan awan tebal. Pertengahan bulan Bahman, dataran Persia tengah dililit dingin, suhu terus melorot tajam. Sejauh mata memandang langit Teheran berselimut kabut. Namun, tiba-tiba arak-arakan manusia di jalanan memecah kesenyapan alam. Spanduk, poster, bendera, yel-yel dan lagu-lagu patriotis seumpama simfoni pagi yang menyambut hari.

Di sini jalan Azadi Teheran, setiap hari tempat ini menjadi lalu lintas mobil mewah, mobil tua, mobil bak, bus way dan ribuan kendaraan bermotor lainnya. Hari ini, jalan-jalan menjadi milik pejalan kaki. Kakek dan cucunya, ayah dan putrinya, pasangan pengantin, remaja dan ibu-ibu berbaur dalam lautan manusia yang tak bertepi. Tiga puluh tahun lalu, gelombang manusia pun pernah meriuhkan jalanan ini. Pemuda, orang tua juga wanita berdesakan menyuarakan perubahan. Senapan, ban bekas, tumpukan pasir, dan bercak-bercak darahpun pernah membentuk paduan orcestra di sini.

Hari ini, aku diberiNya waktu untuk menjenguk jalan sejuta kenangan ini. Debar hatiku kian menguat seiring langkah-langkah kaki yang mulai memberat. Ingin kulacak tumpukan ban bekas, namun di kanan kiri kutemukan gedung-gedung tinggi menjuntai. Ingin kuhirup bau amis ceceran darah, namun wangi Yasmin yang merasuki hidungku, seribu tangkai bunga di tabur dari udara. Ingin kutatap moncong-moncong peluru, tapi kudapati seribu lukisan yang dipajang sepanjang jalan. Ingin kudengar suara gelegar komandan militer, namun suara lantang Ahmadinejad yang mengalir lewat puluhan pengeras suara di jalan-jalan.

Suara itu makin menguat, penuh intonasi dan luapan semangat. Ia membincangkan tentang kemerdekaan dan kemandirian bangsa, ia bercerita tentang 30 tahun perjalanan revolusi dan ia meyulut semangat masa dengan nilai-nilai langit warisan sang maha guru, khomeini. Khomeini memang pernah memijarkan bola api di ranah mullah ini. Semburatnya tak hanya menyembur ke negeri tepi, tapi telah menyebrang melintasi berbagai negara bahkan benua.

Aku masih berjalan terseok di bawah langit mendung Azadi sambil dipeluk dingin yang tak terperi. Di kanan kiri gelombang manusia masih terus bergerak. Aku sendiri tak mengerti, kenapa kaki ini seperti ingin terus bergerak. Aku sadar, tanah ini tak pernah melahirkanku, akupun tahu bahasa dan budaya kami berbeda dan sepenuhnya kuakui aku masih selalu mendamba panorama negeriku yang jelita atau merindu musim tropis yang harmonis. Aku hanya seorang anak rantau yang tengah memunguti hikmah yang ditebar Tuhan pada setiap bumi-Nya.

Khomeini, Menjelma Salju jadi Musim Semi

rumah-imam-1Musim dingin ini agak berbeda dari biasanya, setidaknya itu yang saya rasakan di Teheran, entah dengan kota lain. Hari-hari ini memasuki puncak musim dingin, biasanya suhu sudah merosot jauh meninggalkan titik nol, bahkan tahun lalu sempat mencapai dua digit di bawah nol. Tapi tahun ini suhu tak sampai menukik tajam. Saya Jadi teringat istilah yang digunakan orang Iran “zemestan bahar syud” kira-kira artinya musim dingin yang menjelma jadi musim semi (agak mirip-mirip dengan judul di atas)

 

Tapi, sesungguhnya istilah itu lebih bayak digunakan untuk kondisi sosial. Istilah itu menjadi populer setelah para pejuang revolusi Iran berhasil mengkocar-kacirkan dinasti Pahlavi. Peristiwa itu terjadi di puncak musim dingin, saat badai salju meluap-luap dan angin dingin menusuki pori. Namun luapan semangat dari para gerilyawan revolusi telah mampu mengubah beku menjadi seulas senyum Yasmin dan Susan yang merekah.

 

Pemimpin para gerilyawan itu tak lain, Imam Khomeini. Sebagian menggambarkan Khomeini sebagai tokoh yang angker, otoriter dan gila kekuasaan. Tapi  bagi saya, Khomeini tetaplah seorang pemimpin kaum proletar yang tak sekedar menyuarakan anti ketimpangan sosial. Tapi, beliau sendiri menjadi contoh kesederhanaan. Rumah Imam di kawasan Jamaran bercerita banyak tentang kesahajaan. Aroma kesederhanaan rumah ini telah membawa banyak masyarakat dunia menapakkan kakinya di  sana.

 

Keberhasilan revolusi yang digulirkannya, bukan untuk memakmurkan posisi anak cucunya. Dalam sebuah wawancara televisi, Hasan Khomeini (salah satu cucuk beliau) pernah ditanya, kenapa anda tidak mendaftar menjadi anggota dewan? Atau kenapa anda tidak masuk dalam struktur pemerintahan? Dengan penuh kerendahan hati ia menjawab, Imam pernah berpesan bahwa sebaiknya keluargaku berada di antara rakyat dan berkhidmat untuk mereka.

 

Sisi lain yang sangat melekat pada diri Imam adalah kemapanan spiritualitas yang dihasilkannya melalui penghambaan mutlak pada sang penggerak seluruh alam. Aura spiritualitas ini dapat dicerap oleh orang-orang yang pernah berada di sekelilingnya. Seperti dikisahkan oleh Robin Wood, seorang jurnalis Amerika: “Saat Imam memasuki ruangan, aku merasa seperti  ada gelombang kuat maknawi yang menyertainya, di mana seluruh pusat perhatian yang hadir tersedot padanya. Saat itu aku merasa, kehadirannya membuat kami semua menjadi kecil dan konon di ruangan itu hanya ia yang tersisa”

 

Khomeini, sejatinya telah merangkumkan sifat-sifat kepemimpinan yang ideal, tak meminta upah besar  dari rakyat, tak menata keluarganya dalam jajaran pemerintahan dan yang terpenting Khomeini telah lebih dahulu membenahi pandangan dunia agamanya sebelum mentarbiah masyarakatnya.  Tanpa sendi-sendi itu, agak sulit menyulap bola salju menjadi bunga-bunga musim semi.

Antara Gaza, Kesadaran dan Pesan Nainawa

Al-kisah, serombongan pemuda Islam memasuki imperium Persia nan megah. Salah seorang diantara mereka berseru pada sang raja: “Wahai tuan, kami tahu anda memang memiliki persenjataan perang yang komplit, kami juga tahu anda memiliki kekayaan yang berlimpah. Tapi, ada yang tidak anda ketahui bahwa kami tidak takut mati. Maka, senjata dan kekayaan anda tidak akan berarti apa-apa” Lalu diceritakan dalam sejarah, sang rajapun terkalahkan oleh senjata kata-kata yang dahsyat itu.

Kisah keberanian ala pemuda itu terus menerus mewarnai panggung sejarah, timbul tenggelam seiring perjalanan anak manusia. Fragmen-fragmen ini dimainkan oleh manusia-manusia berbeda dari berbagai suku dan bangsa tapi dengan semangat tunggal, keberanian menegakkan kebenaran.

Pada tahun ke 61 Hijriah, drama kepahlawanan ini dipentaskan oleh seorang pemuda bernama Husain. Bersama kawan dan keluarganya, ia manifestasikan kekuatan kata-kata “Aku tidak takut mati demi kebenaran” Puluhan pemudapun berdiri tegap menghadapi empat ribu pasukan bersenjata lengkap. Meskipun akhirnya ia dan pendukungnya gugur, tapi sejarah mencatatnya dalam tinta emas yang tidak akan pernah luntur oleh terpaan apapun.

Hari ini, di sudut Gaza sekelompok pemuda bermodal ketapel dan senjata seadanya berani menentang kekuatan zionis Israel yang didukung persenjataan mutaakhir. Dalam dada para pemuda itu, tersembul semangat “Tidak takut mati untuk kebenaran yang diyakininya” Senjata inilah yang membuat tentara Israel kewalahan untuk perang darat dan akhirnya memilih menjadi pengecut dengan menyarangkan roket-roket dari udara.

Hari ini, kita masih menyaksikan mayat-mayat yang bergelimpangan di balik reruntuhan, masih mencium bau amis darah segar yang terus mengalir dari para korban tak berdosa, masih mendengar jerit parau para wanita yang kehilangan anak-anak balita, masih nelangsa mengintip dapur-dapur mereka yang tak lagi tersisa secuil makanan atau menengok rumah sakit yang tak dapat lagi menampung korban dan tentu kita sudah teramat lelah merekam adegan-adegan yang tak berprikemanusiaan.

Tapi hari-hari ini juga, berkat keberanian para pejuang Gaza geliat kesadaran mulai kembali merambah di dada pemuda muslim di berabgai belahan dunia. Sebuah kesadaran untuk memperjuangankan hak-hak yang tertindas dan menentang kezaliman. Semangat inilah yang dahulu menghantui para imperialis di negara-negara jajahannya. Semangat ini pula yang sampai saat ini mengganggui para petinggi di dunia Barat dan para raja di jazira Arab.

Semangat ini, sesungguhnya sejak lama bersemayam di dada para pengikut Husaini dan siapa saja yang terilhami oleh perjuangan Karbala. Semangat ala Husaini ini pernah berhasil menumbangkan ketiranan raja Syah Iran, melumpuhkan kecongkakan militer Saddam dan terus akan memberangus para penguasa dunia yang lalim. (Salam bagimu wahai Imam Husain, maha guru keberanian)

photo dari sini

Berita Gaza banyak Dilacurkan

palestinaSejak hari pertama serangan brutal Israel ke jalur Gaza, saya langsung berburu berita. Berbagai situs berita resmi dalam bergagai bahasa sampai blog-blog pribadi yang mengulas tragedi Palestina, rajin saya kunjungi. Sepakat dengan para blogger lainnya, saya juga mensinyalir banyak media Indonesia yang melacurkan informasi penyerangan ini. Setelah ditelusuri, ternyata pemberitaan tersebut buah hasil mengamini mega media Barat.

Diantara yang sangat populer adalah pemberitaan bahwa “Perang di Gaza terjadi dua arah seacara seimbang” “Kelompok Hamas sebabkan krisis di Gaza, karena tak inginkan perjanjian” ” Serangan Israel ditujukan untuk memberantas kelompok Hamas, bukan rakyat sipil” Kalau ditelusuri secara jeli, pemberitaan di atas nyaris sama dengan pernyataan-pernyataan Livni, menteri luar negeri Israel. Maka bisa ditebak peberitaan mega media yang selama ini mengaku independen itu, kenyataannya tidak lain hasil dikte para petinggi negeri Barat dan Zionis.

Mungkin paket berita itu cukup berhasil mengkisruhkan logika banyak orang. Alih-alih berduka untuk rakyat Palestina, mereka malah merutuki kelompok Hamas yang dianggap sebagai biang kerok. Maka, bagi mereka turun ke jalan mendukung perjuangan Palestina adalah tindakan sia-sia. Tapi, tidak sedikit umat yang masih melek dan tidak menerima begitu saja pemberitaan media Barat. Buktinya, demonstrasi yang menentang penyerangan Israel ini, merebak di seluruh penjuru dunia. Tidak hanya di negeri-negeri muslim, bahkan sudah merambah ke dataran Amerika Latin.

Tentu saja, bagi mereka yang masih bisa berfikir jernih akan sangat mudah menangkis suntikan-suntikan pemberitaan di atas.

Pertama, secara historis Israel lah yang seringkali mengingkari perjanjian dan selalu melancarkan serangan ke daerah Palestina. Maka, bagi rakyat Palestina, istilah perjanjian hanyalah upaya Barat agar negeri ini selamanya berada dalam pendudukan Israel.

Kedua, peperangan itu sama sekali tidak sebanding. Sebelumnya, wilayah Gaza sudah dikepung dan masyarakat hidup di bawah tekanan embargo negara Barat, jangankan pasokan senjata, bantuan kemanusiaanpun kerap dijegal. Sementara Israel menyerang dengan kekuatan persenjataan penuh, pasokan dari negera-negara sekutu.

Ketiga, meskipun mereka berkoar-koar bahwa serangan itu ditujukan hanya untuk kelompok Hamas, secara fakta di lapangan mayoritas yang terbunuh adalah rakyat sipil dan 40 persen diantaranya perempuan serta anak-anak. Fakta lainnya, serangan itu mengenai masjid, pusat pendidikan bahkan rumah sakit. Maka, jelas sekali kalau serangan itu memang ditujukan untuk merampas tanah Palestina.

Masih banyak lagi alasan-alasan lain yang membuat umat tidak bisa dengan mudah dijejali informasi-informasi culas di atas. Teruslah berjuang untuk pembebasan Palestina, saudaraku!!!!!

Siapa Berhak Sandang Ibu Indonesia 2008?

bungaJudul ini berangkat dari kegelisahan saya setelah membaca sebuah artikel di blog tetangga. Si penulis dalam blog itu, mencalonkan seorang perempuan tukang batu merangkap PSK sebagai Ibu Indonesia 2008, alasannya karena si ibu dianggap berjasa telah berjuang menafkahi kelima anaknya. Di alam demokrasi seperti ini, setiap orang memang berhak menyuarakan pendapatnya, sebagaimana saya juga berhak untuk tidak setuju dengan pendapat di atas.

Saya tidak sedang menggugat profesi ibu tadi, tapi ini berkaitan dengan sosok ibu indonesia yang kedengarannya agak menggelitik nurani. Yang saya khawatirkan adalah efek sosial di belakang peristiwa pelabelan itu. Bukankah artinya kita diminta untuk mentolerir bahkan menghormati pekerjaan itu, yang artinya juga kita diminta untuk membiarkan mereka betah menjalani profesinya? Sementara yang seharusnya kita lakukan adalah menolong mereka keluar dari lingkaran itu, bukan malah membiarkannya.

Alasan ketidaksetujuan saya yang lain, masih banyak perempuan yang berjuang untuk menghidupi keluarga dengan cara yang mulia. Mereka tersebar di pasar-pasar becek atau di tengah gundukan sampah. Mereka bisa jadi tukang sapu pasar, penjual asongan di gerbong ekonomi, pemulung atau buruh cuci. Saya sendiri pernah menyaksikan perjuangan salah satu diantara mereka.

Tujuh Tahun lalu, seorang ibu muda dan ketiga anaknya menjadi penunggu setia pasar Lempuyangan Yogyakarta. Di siang hari si ibu membanting tulang membersihkan sampah-sampah yang berserakan di pasar, malam harinya ia akan bermalam di rumah kardus samping pasar sambil mendekap anak-anaknya, juga si bungsu yang masih bayi.

Masih banyak lagi cerita-cerita kegigihan para ibu lainnya yang berjuang untuk mengantar rezeki halal kepada anak-anak masa depan bangsa. Menurut saya, merekalah yang lebih layak mendapat bingkisan istimewa di hari ibu ini. Itu menurut saya, bagaimana menurut anda, temans?

« Entri lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.