
Sore itu saya duduk di sudut Mellat Park , mengagumi bunga-bunga spring yang mulai merekah. Ah…benar kata orang, Mellat Park memang cantik dan elok, barangkali gambaran yang agak mirip adalah Cibodas. Bedanya, untuk bisa menikmati keindahan Cibodas kita harus menyisir jauh ke luar kota, tapi Mellat Park berada di pusat kota, berdampingan dengan gedung-gedung megah. Di sepanjang sisi taman, berbaris pohon-pohon rindang yang mengesankan keteduhan dan kedamaian, di bawahnya puluhan bangku-bangku taman tertata nan rapi.
Kekaguman saya semakin menjadi, saat berada tepat di gerbang masuk, berbagai ragam pepohonan berjajar rapi dihias aneka bunga yang baru saja bersemi. Bunga yasmin, suzan, surkh, niluvar dan syaqayik seperti berlomba menawarkan pesonanya. Ah…sepertinya Tuhan sedang meniupkan setetes keindahan diriNya dalam kelopak-kelopak bunga yang jelita. Apalagi hari itu, langit tampak biru menampah pesona keindahan latar.
Perhatian saya kini tertuju pada spanduk besar yang bertulisakan “Sal-e Islah-e Ulgu-e Masraf” yang kira-kira artinya “Tahun reformasi pola konsumsi” Tiba-tiba saja, ingatan saya melayang pada beberapa hari ke belakang, saat pemimpin revolusi Iran mencanangkan tahun ini sebagai tahun berhemat. Pencanangan visi ini dilakukan beberapa saat setelah pergantian tahun dalam pidato tahunan. Visi inilah, biasanya akan menjadi ruh dan semangat masyarakat dalam menjalani hari-hari ke depan. Visi yang diangkat, biasanya berangkat dari pencermatan dalam akan fenomena kekinian yang melanda dunia dan juga konteks nasional.
Visi tahun inipun, serasa pas dengan kondisi dunia yang tengah dilanda tsunami ekonomi. Terjungkalnya berbagai perusahaan ternama diikuti membengkaknya angka pengagguran juga merangkaknya harga sandang dan papan membuat masyarakat dunia dihantui kembali peristiwa depresi ekonomi, pasca perang dunia kedua. Para ekonom kalap memutar keras urat syarafnya, sementara pemain di lapangan dan masyarakat bawah semakin panik.
Ada yang kerap luput dari bidikan massa saat krisis melanda. Kita memang butuh banyak cadangan devisa untuk mengimbangi jatuhnya nilai tukar mata uang atau kita memang perlu memberikan jaminan keamanan agar insvestor tak berlarian. Tapi, sesungguhnya ada terapi yang berbiaya murah namun bisa menyehatkan kehidupan ekonomi masyrakat, meskipun bisa jadi hasilnya baru akan terlihat dalam jangka panjang. Terapi itu, tak lain pola konsumsi masyarakat yang sehat. Persis sebagaimana yang diisyaratkan Rahbar.
Saya jadi teringat serial nabi Yusuf yang tengah diputar di tv 1 Iran, saat mengetahui akan terjadi masa paceklik panjang, nabi Yusuf menurunkan strategi untuk mengubah pola kunsumsi masyarakat dan menyimpan gandum-gandumnya di gudang penyimpanan untuk masa-masa sulit. Hasilnya, saat itu negeri Mesir paling siap menghadapi krisis ekonomi, bahkan bisa mensuply pangan ke beberapa negeri tetangganya, seperti Kan’an.
Saat inipun, ketika dunia sedang mengalami paceklik ekonomi. Jika Iran berhasil menjalankan berbagai program penghematan, tidak menutup kemungkinan beberapa puluh tahun ke depan, Iran akan mengalami kemampanan ekonomi yang cukup diperhitungkan di tingkat asia, seperti prediksi beberapa analis. Nampaknya, untuk mencapai target tersebut, tahun ini iran akan merombak besar-besaran pola kunsumsi baik dalam skala mikro maupun makro ekonomi.
Di hari pertama tahun inipun, sudah tersebar berita pengurangan subsidi bensin yang biasanya dialokasikan sebesar 120 liter perbulan menjadi 100 liter. Sebagai catatan harga subsidi bensin 100 tuman (sekitar 1000 rupiah), sedangkan bensin tanpa subsidi sebesar 500 tuman. Secara kasat mata, sepertinya masyarakat terkena tekanan ekonomi. Namun, senyatanya jika saja masyarakat memperbaiki kembali pola konsumsi mereka dan bersulit-sulit dahulu, tidak mustahil dalam jangka panjang akan menjadi tabungan keberhasilan. Agaknya, jika Indonesiapun ingin keluar dari jeratan krisis ekonomi, harus mulai mengkaji ulang reformasi konsumsi baik di tingkat mikro maupun makro.

Hari ini saya memeriksa rekening pembayaran listrik untuk dua bulan terakhir (karena pembayaran listrik di sini setiap dua bulan sekali), saya hampir tak percaya melihat angka yang tertulis di rekening hanya sebesar 21. 928 rial (sekitar 21. ribu rupiahan). Berarti setiap bulan saya hanya mengeluarkan sekitar 10 ribu rupiah. Padahal, saya merasa pemakaian listrik dua bulan ini cukup besar, karena hampir tiap hari saya menggunakan microwave, belum lagi dua atau tiga kali sehari bervacuum cleaner ria. Awalnya saya merasa hepi, karena anggaran untuk shopping
Menyimak kisah Annisa dalam “Perempuan Berkalung Sorban”, mengingatkan kembali kenangan saya bersama ayah saat beliau masih hidup. Bukan, bukan karena kemiripan cerita, lebih karena kesamaan latar belakang. Tapi, perjalanan hidup Annisa sama sekali berbeda dengan apa yang saya alami.
Dalam sejarah perjalanan anak adam, kerukunan umat manusia kerap kali mengalami ujian pahit. Tak jarang kecintaan pada sesama terkalahkan oleh kepentingan-kepentingan individualis. Belakangan juga, kita berturut-turut menyaksikan perseturuan antar umat beragama di berbagai wilayah tanah air. Apalagi, suhu politik menjelang pemilu yang kian memanas, seringkali turut menghangatkan segala friksi dan perbedaan.
Pagi ini 10 Februari 2009, matahari agak malu-malu bertamu, timbul tenggelam di balik gumpalan awan tebal. Pertengahan bulan Bahman, dataran Persia tengah dililit dingin, suhu terus melorot tajam. Sejauh mata memandang langit Teheran berselimut kabut. Namun, tiba-tiba arak-arakan manusia di jalanan memecah kesenyapan alam. Spanduk, poster, bendera, yel-yel dan lagu-lagu patriotis seumpama simfoni pagi yang menyambut hari.
Musim dingin ini agak berbeda dari biasanya, setidaknya itu yang saya rasakan di Teheran, entah dengan kota lain. Hari-hari ini memasuki puncak musim dingin, biasanya suhu sudah merosot jauh meninggalkan titik nol, bahkan tahun lalu sempat mencapai dua digit di bawah nol. Tapi tahun ini suhu tak sampai menukik tajam. Saya Jadi teringat istilah yang digunakan orang Iran “zemestan bahar syud” kira-kira artinya musim dingin yang menjelma jadi musim semi (agak mirip-mirip dengan judul di atas)
